Latest Event Updates

Harapan.

Posted on Updated on

Berjarak ratusan kilo meter, bukan menjadi penghalang buat hati kita untuk saling merasakan dan mendoakan, betapa pedih kian tak luput dari pagar dinding kehidupan, tentunya iya, tentunya kehidupan kita,

hanya harapan yang mampu kita pertahankan,

walawpun bagi sebagian orang itu adalah sebuah kesia2an,

tapi bagi kami harapan adalah sebuah kekuatan, karena hanya harapan, sebagai dinding terakhir kami untuk tetap selalu bisa bertahan hidup dalam berbagai kesukaran yang menghampar disepanjang jalan.

Semoga kalain berdua, yg terbaring diujung sebrang berkilo-kilo meter dari jangkauan tangan dan penglihatan,

senantiasa selalu diberikan kesehatan dan ketentraman. Amien

Jogjakarta, 4-12-2012 kalasan

~Syamsuri Hr Dahud

Keterjajahan Lewat Bahasa

Posted on Updated on

Banyak hal kegiatan positif yang dapat dilakukan oleh kita, terutama oleh kalangan generasi anak muda ketika hendak memperingati tanggal, hari dan bulan yang bersejarah. Apalagi tanggal, hari dan bulan itu yang memiliki nilai sejarah panjang dan penting bagi perjalanan kesatuan bangsa dan negara kita Indonesia, salah satunya dalam upaya untuk memperingati bulan bahasa.

Kita semua hendaknya tidak hanya larut dalam buaian romantisme sejarah belaka dan hanya disibukan dengan hal-hal yang hanya bersifat seremoni semata, melainkan diperlukannya sebuah upaya reflektif yang menyeluruh dan kita berani jujur sama diri kita sendiri sejauh mana upaya yang telah dilakukan oleh kita untuk mengisi, merawat dan meneruskan pencapaian-pencapaian yang telah dicapai oleh para tokoh bangsa kita. Dalam memperjuangkan persatuan dan kesatuan bangsa ini, dengan jalan panjang penuh liku untuk menetapkan penetapan bahasa nasional kita yaitu bahasa Indonesia. Saya kira setidaknya dengan upaya reflektif dan penuh kejujuran itu, kita akan mampu melihat arah tujuan dan nasib penggunaan bahasa Indonesia kedepannya dengan jelas dari ancaman gempuran informasi dan globalisasi yang hampir tanpa batas.

Abai terahadap bahasa tradisional

Terlahir sebagai seorang anak laki-laki di tanah pasundan, sedikit banyaknya saya tumbuh besar dengan unsur budaya-budaya setempat, lebih tepatnya budaya sunda atau ka-sundaan. Dari kecil saya sudah fasih berbicara dalam bahasa sunda seperti umunya pada anak-anak kecil di daerah lain, fasih berbicara dengan bahasa budayanya sendiri-sendiri. Sekitar tahun 90-an dan umur saya kurang lebih sekitar sembilan atau 10 tahunan, saya merasakan masih kesulitan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia walaupun ada rentang waktu sekitar 62 tahun dari awal penggunaannya secara Nasional, faktor penunjang ketidakcakapan saya dalam berbahasa Indonesia ketika itu dipengaruhi oleh berberapa hal.

Faktor pertama, orang-orang terdekat saya seperti didalam keluarga tidak pernah menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi diantara anggota keluarga yang ada, dan itu membuat saya sama sekali tidak merasakan pengenalan pendidikan bahasa indonesia didalam keluarga sebagai basis pendidikan non formal pertama.

Faktor kedua, lingkungan masyarakat setempat. Sebagaimana umumnya pertumbuhan seseorang didalam sebuah masyarakat, kita akan selalu berinteraksi dengan budaya-sosial yang ada di lingkungan kita, bahkan lingkungan setempat lah yang mampu membentuk jati diri seseorang tersebut setelah keluarga. Lingkungan masyarakat dimana saya lahir dan tumbuh besar, didalam kesehariannya ketika berkomunikasi dengan para penduduk setempat baik ketika di pasar, kantor kelurahan, maupun ketika pengajian bahasa komunikasi yang dipergunakan memakai bahasa sunda.

Faktor yang ketiga, institusi pendidikan formal pertama. Pada tahun pertama saya masuk sekolah tingkat dasar sampai pada tahun-tahun terakhir kelulusan saya di sekolah dasar, bahasa yang dipergunakan dalam lingkungan sekolah ketika berinteraksi baik sesama murid ataupun ketika berinteraksi kepada guru-guru sekolah selalau menggunakan bahasa daerah yaitu bahasa sunda, bahkan kadang kala bahasa pengantar dikelas pun menggunakan bahasa sunda walapun buku teks atau LKS (Lembar Kerja Siswa) menggunakan bahasa indonesia.

Setidaknya tiga faktor itu menjadi penunjang kuat sebab musabab kenapa pada umur 10 tahunan saya masih “gagap” dalam berbahasa Indonesia, dan saya kira dari ketiga faktor itu semua tidak bisa dipisahkan dari faktor geografi sebagai faktor makronya. Berdasarakan data Tempo (Rabu 12/juni/2012) kota Bandung sedang mengupayakan pembuatan peraturan tentang penggunaan dan pemeliharan bahasa sunda, bahkan mewajibkan pada hari-hari tertentu didalam lingkungan kepegawaian untuk menggunakan bahasa sunda dalam percakapan kegiatan-kegiatan keseharian. Dengan adanya peraturan itu diharapkan bahasa sunda masih dipergunakaan atau dalam kata lain agar tidak mati digilas peradaban, mengingat keadaan masyarakat setempat (Sunda) sebagai bagaian dari bentukan budayanya sendiri mulai absen terhadap bahasanya sendiri.

Dari situ dapat kita pahami bagaiamana letak posisi geografi sangat berpengaruh kuat terhadap kebiasaan masyarakat setempat, bahkan dalam penggunaan bahasa sekalipun. sebuah Kota yang didalamnya menampung dan memberikan ruang lebar untuk segala unsur budaya lokal yang ada dapat berkembang, dan bahkan tidak terhindarkan terjadinya saling bersinggungan diantara satu unsur budaya yang satu dengan yang lainnya dan Kota yang selalu dianggap sebagai contoh dari peningkatan peradaban yang lebih modern, lebih dari tiga unsur keutamaan dari Kota tersebut, akan tetapi ada satu hal yang tersisihkan oleh kita secara perlahan-lahan, kita abai dengan nilai-nilai tradisonal kita, berbeda jauh dengan di Desa nilai-nilai tradisional selalu terawat dan terjaga dengan baik.

Pertarungan antar bahasa

Kemudian yang menjadi permasalahan sekarang, setelah beberapa tahun saya berhijrah kesebuah Kota, saya baru menyadari  ternyata ada yang lebih menghawatirkan dari hanya sekedar abainya kita terhadap nilai-nilai tradisional kita, sekarang kitapun ternyata abai terhadap bahasa nasional kita sendiri. Hemat saya, semoderen apapun kita menjadi sesosok manusia, hendaknya lah tidak meninggalkan nilai-nilai tradisional yang telah membentuk jati diri kita dan nilai-nilai kultur bangsa kita sendiri, ibarat peribahasa kacang lupa pada kulitnya. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional adalah harga mati untuk kita jaga dan kita gunakan sebaik mungkin agar diantara kita tidak terjadi gap dalam berkomunikasi, selain kita dituntut sadar diri untuk tetap memperdayakan dan menggunakan bahasa tradisional kita masing-masing. Karena mengingat kita terdiri dari berbagai suku, ras dan budaya yang ada dan hidup rukun di tanah air Indonesia.

Kini nasib penggunaan bahasa nasional kita bahasa Indonesia terancam tergusur karena kalah dari pertarungan dengan bahasa-bahasa bangsa lainnya, bangsa-bangsa yang lebih jaya, maju, kuat dan dihormati. Bahasa Indonesia semakin terpinggirkan seperti nasibnya bahasa tradisonal yang sudah terlebih dahulu terpinggirkan sejak jauh-jauh hari dari keseharian kita. Pada umumnya masyarakat Indonesia yang lahir dan tumbuh besar ditanah Indonesiaa baik yang di perkotaan maupun di pedesaan, sekarang sama-sama mepunyai satu pemahaman yang tidak jauh berbeda dan lebih-lebih sangat menghawatirkan, mereka menganggap bahwa bahasa bangsa asing adalah bahasa yang lebih modern bahasa yang mereka anggap bisa mewujudkan sisi ke emperioran mereka, serta menunjukan kebanggaan yang absurd, dan seolah-olah mengangap mereka adalah bagian dari bangsa “asing” itu sendiri.

Selama di kota rantau itu lah saya terperanjat, banyak sekali orang-orang yang selalu menyelipkan kata-kata “asing” ketika bercakap-cakap diantara meraka, ketika terjadinya diskusi, dabat publik dan lain-lainnya. Bahkan sering kali saya meihat pemimpin kita pun selalu dengan fasihnya dan bangganya menyelipkan kata-kata  “asing” itu disetiap tutur kata ucapannya yang terdengar begitu “asing” pula ditelinga kita.

Kesadaran diri

Saya kira tidak ada salahnya ketika kita mempelajari bahasa “asing” bahasa apapun itu, karena itu semua akan mempermudah kita dalam bergaul dengan masyarakat dunia, akan tetapi kita dituntut kesadarannya dalam mempergunakan bahasa-bahasa yang kita pelajari. Pergunakanlah bahasa nasional kita, bahasa tradisonal kita dan bahasa “asing” yang kita pelajari pada waktu dan tempatnya yang tepat.

Kehancuran dari sebuah budaya dan nilai-nilai peradaban suatu bangsa termasuk bahasanya adalah karena ulah manusia-nya itu sendiri, manusia yang tidak mampu menjaga dan menghargai nilai-nilai peradaban bangsa-nya dengan baik akan binasa dengan sendirinya tanpa perlu dengan sengaja untuk dibinasakan. Maka hendaklah kita mengaca kepada upaya para pejuang dan pemuda dari berbagai penjuru nusantara yang dengan gigihnya pada masa-masa pra kemerdekaan bangsa Indonesia, menyatukan gagasan dan tujuannya demi persatuan Indoensia dengan melahirkan Sumpah Pemuda yang tercatat pada literatur sejarah kita pada tanggal 28 oktober 1928.

Dengan penuh kesadaran diri yang tumbuh didalam dada dan hati kita masing-masing, sebagai anak-anak yang lahir dari sebuah bangsa, bangsa Indoneisa. Mari kita tanamahkan bersama prilaku rasa tanggung jawab dan penghargaan akan bahasa nasional kita bahasa Indonesia untuk kita pergunakan dengan sebaik mungkin dan setertib mungkin, agar kita tidak termasuk anak-anak bangsa yang ingkar terhadap landasan Negara kita UUD 1945 dan menghindarkan bangsa kita dari keterjajahan kembali dengan jalan penguasaan bahasa.

 

Tulisan saya, ketika memperingati bulan bahasa, 28-10-2012

~Syamsuri Hr Dahud

 

Ketupat Kosong

Posted on

Handuk kecil itu diremasnya. Sehabis digunakannya kemudian dihempaskan dengan begitu saja ke atas kursi kayu dipojokan beranda rumah, kursi usang yang catnya sudah memudar dan berjamur kebiru-biruan, menyebar diseluruh permukaan terlihat seperti koreng-koreng luka yang baru mengering. Hawa panas diluar rumah dirasakannya begitu sangat melelahkan, bulir-bulir keringat yang terus bercucuran membuat lelaki tua bertubuh kecil itu gusar, dan dilepaskannya kaos putih berlipit-lipit kehitaman itu dengan tergesa-gesa.

“Hari-hari yang panas” gumamnya sambil merebahkan diri dikursi, untuk mendinginkan suhu badannya yang kepanasan, dan agar kedua kakinya terasa nyaman, diangkatnya dan diletakannya diatas meja kecil berbentuk bulat serta tumpukan koran bekas yang tidak beraturan posisinya. Setelah memperbaiki posisi duduknya agar benar-benar pas, matanya sempat melirik ke arah bagian samping kanan kakinya, yang berselonjor diatas meja dan diliriknya koran bekas itu (Radar Karawang, gejolak perampasan tanah perkebunan penduduk desa oleh PT. JUSIN) “haaaahhhhhh……”. Desah beratnya sendiri, dia rasakan dengan seksama, seolah-olah desahnya itu menandakan begitu beratnya masalah yang tertampung dikepala kecilnya, yang sedari tadi terus-menerus mengeluarkan buliran-buliran keringat. Sejam kemudian telah berlalu, orang tua yang berkumis tipis hitam itu jatuh tertidur, dan mendapatkan dirinya sedang mengembara ke alam liar mimpi bawah sadarnya. Anehnya si lelaki tua itu, mendapatkan mimpi yang mengulang kembali kepada kejadian siang tadi yang baru dilewatinya.

***

“Pak sarlan, pak sarlan!”. Sepintas didengarnya suara pannggilan itu, tapi tidak begitu jelas, karena suara angin yang ribut, dan diliatnya ke arah sekitar tapi tidak didapatnya sumber suara itu dari mana, kemudian dia melanjutkan pekerjaannya menumpuk-numpuk bagian permukaan tanah dengan cangkul, agar bisa ditanami dengan kacang-kacangan.

“Pak sarlan!”, setelah didengarnya dengan jelas arah panggilan suara itu, lelaki tua itu menghentikan kembali pekerjaannya, dan dilihatnya dari balik pohon kelapa yang ada diujung kebunnya, muncul dua orang lelaki yang terlihat jalan dengan tergesa-gesa, kemudian diamatinya baik-baik dengan menajamkan pandangannya dengan seksama, si lelaki ke satu dilihatnya hanya menggunakan kaos berkerah, celana panjang Jeans dan bersandal, dan si lelaki yang kedua pun tidak luput dari pengamatannya, dilihatnya agak berbeda dengan lelaki yang kesatu, atasannya mengguakan kemeja panjang dan celana panjang kain yang dilipat sampai selutut dan hanya bersandal, sama seperti lelaki yang kesatu.

“Maaf Pak, boleh kami minta waktu luangnnya?” orang yang kesatu memanggilnya dengan sedikit berharap.

Karena angin ribut sudah berhenti, lelaki tua yang sedang berdiri ditengah kebun itu menyahutnya “Iyah pak, ada perlu apa bapak-bapak sampe susah payah begini utuk mencari saya di kebun?”. Lelaki tua itu meletakan cagkulnya dan kemudian berjalan mendekati orang yang hendak menemuianya, yang berdiri diujung kebunnya, dibawah rerindangan pohon kelapa tempat dimana biasanya dia melepas lelah.

“tidak kah kami mengganggu pekerjaannya?, kami mau menanyakan kebenaran berita yang dilaporkan kepada kami!” lelaki yang kedua mencoba menerangkan maksud kedatangannya, sambil tangannya menggaruk-garuk leher bulatnya, karen tergores daun kelapa yang menjuntai hendak jatuh.

“Berita tentang apa, kalau bapak-bapak berkenan menjelaskan pada saya?” tanya orang tua itu untuk memperjelas persoalannya. Dan “Siapa Bapak-bapak inih, saya baru jumpa” tanyanya lagi. Lelaki kesatu menyela obrolah mereka dengan begitu saja “Ini ketupat bikinan bapak?”, sambil memalingkan tatapannya dari lelaki yang kedua, Orang tua itu menjawab seperlunya saja “Ketupat itu saya buat tadi pagi”, dipegang-pegangnya ketupat yang lumayan banyak itu,  berantai terikat dipohon kelapa, “bagus-bagus pak, besar-besar ketupatnya” puji lelaki yang satu.

“Iyah, begitu lah pak” selorohnya.

Merasa tidak enak hati kepada yang lainnya, si lelaki kesatu, mencoba memulai dari awal persoalan yang sedang dibahasnya, yang tadi waktu sempat tetunda karena diriya. Dia menatap ke arah lelaki yang kedua dan mendapatkan isyarat anggukan kepala darinya, isyarat itu dianggapnya sebagia sebuah perintah yang harus dipatuhi. Kemudian lelaki itu menarik napas dan berusaha melegakan dirinya sendiri, lalu memulainya.

“Begni pak, kami berdua ini dari pihak perusahaan, beliau ini pak ahmad sebagai atasan saya, dan saya sendiri pak asep sebagai sekertaris pak ahmad”. Didapatnya lelaki yang kedua oleh orang tua itu, sedang mengernyitkan keningnya, karena pantulan cahaya silau, yang dipendarkan oleh tanah-tanah yang sudah mengering ditengah kebun. “Lantas, bapak-bapak kesinih bermaksud utuk apa?”, bahunya mulai sedikit bergetar. kebiasaan seperti itu selalu muncul disetiap dia merasakan ada ketidak nyamanan dihatinya atau lebih-lebih ketika sedang menahan emosi dibatinnya, “orang-orang begundal kacung-kacung perusahaan” pekiknya didalam hati.

Belum saja sempat dua orang lelaki itu menjawab, si lelaki tua sudah memekik kembali.

“Oh….jadi Kalian berdua ini, hendak mengambil kebun saya?” sergahnya tanpa basa basi lagi kepada tamu asingnya yang berdiri diddepannya, angin segar dipematang perkebunan mulai berhembus, meniup baju-baju ketiga orang lelaki itu, daun-daun kelapa berjuntaian turun naik dipermainkan angin.

“Jangan berharap apapun!” bentaknya kemudian. “Kebun ini satu-satunya yang telah menghidupi keluarga kami, sejumput tanahpun kami tidak rela melepasnya!” nada suara beratnya sedikit meningkat, membuat kedua orang lelaki itu bersikap waspada takut-takut terjadi apa-apa. Beberapa menit kemudia silelaki tua mampu menguasai dirinya, karena dia tersadar kalau sedang menjalankan ibadah puasa terakhirnya.

“Tapi pak!” atasan lelaki kesatu itu mencoba menjelaskannya, “kami sudah mendapatkan ijin, untuk pendirian perusahaan dari pemerintah kabupaten, kecamatan maupun pemerintah desa sinih” jelasnya dengan gamblang, “maka karena itu, kami akan membeli tanah perkebunan bapak, hanya tanah bapak yang belum dijual” mereka berdua merasa yakin dan puas hati, dan bawahannya berusaha menyodorkan semua berkas-berkas, untuk menggoyahkan keyakinan silelaki tua itu. Tapi berkas-berkas itu hanya dilirknya.

Sambil mendengus dan bersungut, “saya lebih memilih menjadi orang-orang terbuang, dari pada menjadi kacung-kacung, perampas kehidupan orang lain!” tandasnya dengan keyakinan pula.

Dilangit, matahari hampir mencapai seujung tombak diatas kepala mereka bertiga, terik panasnya mulai mengeringkan semua sisi-sisa tanah yang sudah dicangkul. Merasa tidak mungkin mendapatkan persetujuan dari lelaki tua itu, tamu-tamu asing itu bergegas untuk pergi, “baik pak, kalau itu keputusannya, perlu anda ingat, bapak akan mendapatkan yang tidak diinginkan, dari hasil kekeras-kepalaan bapak” ancam mereka dengan menunjuk-nunjukan jarinya ke arah silelaki tua, dilihatnya mereka pergi dengan muka yang masam.

“enyah kau dari hadapanku, begundal-begundal sialan” bentaknya dengan keras dan jelas, dan lagi-lagi bahunya terguncang.

 

***

Guncangan bahunya, yang untuk kesekian kalinya itu, berhasil membangunkannya dari tidurnya. Mula-mula dia menggaruk tangannya, yang didapatnya sudah berbentol-bentol karena gigitan nyamuk yang kelaparan, dan kemudian dilihatnya pada arah jam, yang bergantung didinding bambu rumahnya dari sela-sela balik pintu, “hampir tiga jam ku tertidur”, ucapnya kepada dirinya sendiri. Serta dirasakannya leher-lehernya itu, terdapat sisa-sisa keringet yang sudah mengering, berbentuk serbuk, seperti garam. Diambilnya handuk kecil itu, dari belakang punggungnya, kemudian digunakannya kembali untuk menyeka sisa-sisa kringetnya.

“Jam 16.45!” gumamnya sambil berdiri, langkahnya semakin gontai tidak teratur. Kepalanya pun dirasakannya kian semakin berat, sepertinya bukan saja teringat karena kejadian tadi siang, tapi ada yang lebih menyita hati dan pikiranya, dibandingkan dengan kejadian itu semua, “ku harus segera mandi, dan bersiap-siap untuk pergi”. Degan sekuat tenaga, menyeret badannya sendiri menuju sumur, bekas galian tanah dibelakang rumah.

“Mak teni, tolong, saya titip rumah dulu sampe besok pagi” teriak lelaki tua itu kepada tetangganya, sampe-sampe ember kecil hijaunya, tempat sabun sisa mandinya bergoyang-goyang. Rumah tetangganya itu, berada tidak jauh dari rumahnya, hanya terbatasin oleh beberapa pohon pisang yang sudah roboh-roboh.

“Iya pak!” sahut tetangganya. “Mau pergi jenguk ibu pak?, kalau iyah, saya mau titip sangu sama sedikit lauk!, buat makan bapak dan ibu dirumah sakit”. “terima kasih bu, atas semuanya”.

“Sama-sama pak, orang-orang seperti kita harus saling membantu, kalau tidak, kita tidak bisa bertahan hidup” suara tetangganya itu perlahan-lahan menghilang dibawa angin sore hari, diupuk barat semburat lembayung kekuning-kuningan sudah memendar.

Ketika dipastikannya, bahwa semuanya sudah beres, orang tua itu bergegas pergi. Sepanjang perjalanan, pikirannya menerawang. Sejenak memikirkan kebunnya, yang terpaksa harus dijual untuk biaya obat. dan sesaat kemudian, dia teringat pada ketupat kosongnya, yang teronggok didepan pintu rumah.

 

Jogjakarta, 28-11-2012 Jembatan

~Syamsuri Hr Dahud

Seperempat malam..

Posted on Updated on

Gambar  Sekarng aku duduk diantara pintu dan jendela dibawah jubah malam, sambil ku mengingat apa yang telah terjadi, datang lalu pergi sambil berlalu, bayangmu. Dan aku mengenang mu di seperempat malam ku.

~ Syamsuri Hr Dahud 27-04-2012

Aku pun ingin ..

Posted on Updated on

:Hahhh andaikan saja ku sperti yang lain-lain nya, punya segala sesuatu yang bisa membuat mu selalu betah dan senang didekat ku,

di sekitar lingkaran ringkih tangan ku,

di teduhan iba tatapan ku,

dan di antara bayangan rapuh diri ku,

pasti sudah ku berikan, dari swaktu awal pertama kali qt saling bertatap mata di senja sore hari itu, dan sinar lembayung kekuning pekat itu pun ikut menyaksiskan nya, sembari memendarkan bayang-bayang kita berdua , Indah kurasakan waktu itu!

ingin! ingin sekali malah! ingin ku membahagiakan mu seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang sedang mencintai dan mengasihi, seperti orang lain yang memberikan segalanya untuk orang dikasihinya, dan aku pun sejatinya begitu, hanya sekedar ku mau meliat senyum mu, senyum mu yang membuatku tetap optimis dalam menjalni hidup, dengan segala timbul tenggalamnya arus kehidupan ku.

tapi y sudahlah, ternyata garis hidup berjalan lain #sekarang Sesak Ku Rasakan Dengan Semua Nasib Diri Ini.

jogjakarta, 17-2-2012

~Syamsuri Hr Dahud.

Melangkah bersama…

Posted on

Kan tetap ku genggam erat lentik jari jemari mungil mu,

yang saling terkait dengan jari-jari ku,

kita berlari bersama-sama, bukan aku yang lebih pertama, dan juga bukan aku yang lebih belakang, atapun sebaliknya, melainkan kita melangkah bersama-sama.

saling menjaga, saling terjaga dan saling mencinta,

Tak ada dominasi ataupun saling melukai diri, melainkan kita bangun mimpi-mimpi.

Dan kan selalu ku jaga, bara api lilin cinta inih,

sampe kapanpun, sebisa kita bersama, sampe hela napas tak lagi bisa di sesap, entah kapan waktu itu, kita pun tak sanggup melihatnya, Kematian hanyalah permainan Tuhan yang teramat menyakitkan,

jangan kau takutkan, dan jangan kau resahkan akan hal itu semua,

yang terpenting, sekarang kita reguk manis, dari cawan anggur perjalanan cinta kita ke masa depan.

Semoga Tuhan, selalu menjaga kita semua. Amien

Jogjakarta, 14-2-2012 Kost Sadewa

~Syamsuri Hr Dahud

Mental ..

Posted on Updated on

:  Dan peran para pemimpin negara dan peran Partai-partai era sekarng, bukan menjadi sebagai penyelesai suatu masalah, dalam ke-bermasyarakatan n ber-kenegaraan, melainkan menjadi masalah itu sendiri. karna para pemimpin dan para penguasa jaman sekarang, semuanya hanya bermental Jelata, hanya mampu berpikir bagaimana dia mau dilayanin, tanpa mempunya kehendak untuk melayani. Uang di jadikan ukuran dan sebuah ide, yang harus dihdmati secara bersama-sama, gotong royong memikul uang dan kemudian membumikan uang di kehidupan n berkenegaraan, keluar dari konteks moral dan nilai-nilai kebajikan.

Sebuh partai seharusnya, di pimpin oleh ide, menghidmati ide, memikul ide, dan membumikan ide (Soekarno).

Jogjakarta, 1-2-2012 Kost Sadewa.

~Syamsuri Hr Dahud.